Merawat Toleransi Dengan “KUTANG” Di suatu hari yang terik, saya berkunjung ke rumah salah seorang teman untuk mendiskusikan sejumlah persoalan yang berkaitan dengan konteks keindonesiaan. Sampai di tempat, ternyata teman saya sedang di luar. Akhirnya, sambil menunggu ia datang, saya terilhami untuk merayapkan kaki menuju halaman atas rumah teman saya itu. Astaghfirullah. Baru saja tengok mata ke arah kanan, saya sudah dikejutkan dengan tirai siluman berwarna merah dengan dua bulatan indah nan menawan. Ternyata itulah makhluk yang selama ini disebut kutang. Ya, kutang. Sejenak saya tatap tirai kutang itu dengan penuh kekhusyu’an. Sambil menatap saya mulai berpikir. Apakah dari kutang ini saya bisa membuat sebuah tulisan? Saya terus memeras kepala, sambil mewaspadai bayangan isi kutang tersebut menggelayut di kepala secara bersamaan. Dan ternyata,,, Aha! Ternyata bisa! Dari seekor kutang itu muncullah sebuah ide yang saat ini akan saya jadikan sebagai bahan t...