Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2018

Antara Agama dan Budaya Dalam Perspektif Islam

Antara Agama dan Budaya Dalam Perspektif Islam 24 Jan 2018 Oleh : Yunus Abdillah Harus diakui bahwa memang ada permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam dalam membedakan antara agama dan budaya, antara ibadah dan muamalah, antara urusan agama dan urusan dunia, antara sunnah dan bid’ah. Secara teoritis perbedaan antara keduanya dapat dijelaskan, tapi dalam praktek kehidupan kedua hal tersebut seringkali rancu, kabur, dan tidak mudah untuk dibedakan. Ada beberapa hal yang perlu di pahami untu membedakan semua itu : Antara Agama dan Budaya Mengenai agama dan budaya, secara umum dapat dikatakan bahwa agama bersumber dari Allah, sedangkan budaya bersumber dari manusia. Agama adalah “karya” Allah, sedangkan budaya adalah karya manusia. Dengan demikian, agama bukan bagian dari budaya dan budaya pun bukan bagian dari agama. Ini tidak berarti bahwa keduannya terpisah sama sekali, melainkan saling berhubungan erat satu sama lain. Melalui agama, yang dibawa oleh para nabi dan rasul, Al...

Islamku Islam Medsos?

Islamku Islam Medsos? Oleh : M. FARUQ UBAIDILLAH Ada kecenderungan dewasa ini bahwa generasi milenial yang aktif menggunakan media sosial berupaya untuk tampil seislami mungkin di media sosial dengan mengunggah caption-caption islami, khususnya para akhwat-akhwat di perguruan tinggi. Perilaku seperti ini menandakan mereka sedang memerlukan pengakuan atas caranya beragama islam. Banyak akun-akun media sosial terutama instagram yang melegitimasi perubahan identitas keagamaan tersebut. Akun-akun tersebut diikuti oleh jutaan kaum hawa yang diyakini dapat memberi legitimasi bahwa mereka telah menjadi pemeluk Islam yang kaffah. Jika kita runut lebih jauh, kira-kira gejala apakah ini? Saya beranggapan bahwa pengaruh beragama (Islam) di media sosial sangat menarik untuk dibahas. Banyak akun-akun nikah muda, hijab syar’i, no pacaran, suami idaman, istri idaman, taaruf islami, hingga cara meng-khitbah wanita yang secara tidak langsung telah menggeser pola pikir kaum milenial dewasa ini, ...

Politik Arab dalam Kisah Pengorbanan Ismail

Politik Arab dalam Kisah Pengorbanan Ismail Penulis: Prof. Mun’im Sirry al-quran kaum Muslim merayakan hari lebaran Idul Adha, festival kurban, untuk memperingati kepatuhan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah untuk menyembelih Ismail, putranya, dan kerelaan Ismail untuk dikorbankan. Al-Qur’an menekankan aspek ketaatan mereka dalam berserah diri kepada Tuhan. Tapi, Kitab Suci kaum Muslim sesungguhnya tidak menyebut secara eksplisit identitas anak yang dikorbankan Ibrahim: Ismail atau Ishak? Para ahli tafsir (mufassir) modern memang berasumsi bahwa Ismail adalah anak yang dimaksud, kendati sumber-sumber tafsir awal mengindikasikan adanya perbedaan pendapat dalam soal tersebut. Tulisan singkat ini hendak membongkar dimensi ideologi Arab dalam penisbatan anak yang dikorban (dzabih) sebagai Ismail. Namun, sebelum bicara propaganda Arab itu, kita tengok dahulu perbedaan pendapat dalam literatur tafsir awal. Siapa yang Dikorbankan: Ismail atau Ishak? Sumber-sumber Yahudi dan Krist...

Menulis Sejarah Islam Dari Pinggiran

Menulis Sejarah Islam dari Pinggiran Oleh : Mun’im Sirry Sejarah Islam itu ditulis dari perspektif imperialis. Pengaruh imperialisme dapat ditelisik dalam setiap lembaran sejarah yang menyajikan kemunculan dan perkembangan Islam. Inilah agama terakhir yang sempurna, yang diturunkan Tuhan untuk seluruh jagat raya. Penaklukan dan perluasan wilayah digambarkan sebagai karunia Ilahi, bukti kebenaran Islam. Para sejarawan Muslim menyebut ekspansi kekuasaan sebagai “pembukaan” (futuh), istilah yang mengingatkan kita pada slogan kaum imperialis Barat modern, “the white man’s burden.” Kelengketan agenda imperialisme dalam narasi sejarah mudah dimengerti karena kitab-kitab sejarah Islam memang ditulis saat kekuasaan Muslim begitu dominan. Ibn Ishaq (wafat 767), misalnya, sejarawan paling awal yang karyanya sampai kepada kita sekarang, memang menulis karyanya untuk dipersembahkan kepada penguasa Abbasiyah. Bagaimana jika sejarah ditulis dari perspektif kaum pinggiran, mereka yang ditaklukka...

Agama Seribu Satu Dongeng

*Agama Seribu Satu Dongeng* Negeri ini kembali disesaki kekonyolan dalam beragama. Semacam minum air kencing onta, pendeta nyamar jadi ustaz, pelawak menghina al-Qur’an, da’i Wahabi yang mulai merayakan maulid, sampai keberhasilan poligami dengan mengkhatamkan al-Qur’an. Kekacauan sedemikian itu membuat wajah agama jadi karut-marut. Kehilangan keluhuran selaku nafas peradaban manusia. Agama tinggal menjadi atribut. Topeng menggelikan yang dipakai badut jalanan. Hasilnya adalah, tak lagi ada perbedaan antara orang beragama dengan mereka yang menuhankan Google. Nun empat ribu tahun silam, tuhan menurunkan wahyu kepada manusia pilihan-Nya yang kita kenal sebagai nabi dan rasul. Wahyu itu lantas maujud jadi agama. Tuntunan sekaligus pedoman, yang tercetak dalam lembaran shuhuf, tablet, atau kertas. Hari ini kita menyebutnya kitab suci. Lalu muncullah sekelompok pencatat kejadian agung itu dan menuliskan risalah mereka sebagai sejarah kemunculan agama. Masing-masing dengan sudut pan...