Skip to main content

Agama Seribu Satu Dongeng

*Agama Seribu Satu Dongeng*

Negeri ini kembali disesaki kekonyolan dalam beragama. Semacam minum air kencing onta, pendeta nyamar jadi ustaz, pelawak menghina al-Qur’an, da’i Wahabi yang mulai merayakan maulid, sampai keberhasilan poligami dengan mengkhatamkan al-Qur’an. Kekacauan sedemikian itu membuat wajah agama jadi karut-marut. Kehilangan keluhuran selaku nafas peradaban manusia.

Agama tinggal menjadi atribut. Topeng menggelikan yang dipakai badut jalanan. Hasilnya adalah, tak lagi ada perbedaan antara orang beragama dengan mereka yang menuhankan Google.

Nun empat ribu tahun silam, tuhan menurunkan wahyu kepada manusia pilihan-Nya yang kita kenal sebagai nabi dan rasul. Wahyu itu lantas maujud jadi agama. Tuntunan sekaligus pedoman, yang tercetak dalam lembaran shuhuf, tablet, atau kertas. Hari ini kita menyebutnya kitab suci. Lalu muncullah sekelompok pencatat kejadian agung itu dan menuliskan risalah mereka sebagai sejarah kemunculan agama.

Masing-masing dengan sudut pandang dan kepentingannya sendiri. Alhasil, wahyu dan agama mulai mengalami pemerosotan pemahaman. Benarkah demikian? Mari kita telaah.

Agama yang selama ini kadung kita anut, jebulnya sebatas warisan belaka dari orangtua. Sekadar dogma-doktrin belaka. Sistem ajaran yang tak boleh dibantah, diragukan, apalagi diperiksa. “Tak ada kebenaran di luar gereja,” begitu pesan sakti yang menimpa umat Kristen pada Abad Pertengahan. Umberto Eco berhasil membongkar kejumudan dari kalimat tersebut dan menunjukkan betapa yang disebut agama saat itu hanya isapan jempol keserakahan manusia yang mengatasnamakan tuhan.

“Agama yang termapankan” dalam sejarah seringkali dijadikan alat propaganda kekuasaan. Fir’aun, Muawiyah, Constantine, adalah tiga tokoh utama yang menyebabkan sejarah agama ditulis oleh orang yang tidak saleh. Masa empat ribu tahun itu jelas teramat sulit dimengerti.

Sejarah diri dan keluarga kita saja sudah sedemikian rumitnya, apatah lagi berkenaan dengan apa yang sesungguhnya benar diwariskan agama dan mana yang tong kosong sejarah. Kita tak punya pilihan lagi selain memeriksa ulang apa yang selama ini kadung kita sebut agama yang suci.

Jika kita mau menilik lebih cermat, sesungguhnya wahyu yang diterima para nabi dan rasul mengabarkan bahwa dunia ini sangat aneh. Misterius. Sarat teka-teki dengan kita manusia di jantung teka-teki tersebut. Kita hadir begitu saja. Tanpa berencana. Lantas pergi tak kembali, selamanya. Melanjutkan perjalanan berikutnya dalam keentahan yang niscaya. Dunia dengan riasan wajah agama pernah mengalami kemegahan. Terutama ketika Islam tampil di garda depan peradaban manusia selama seribuan tahun. Tapi sekarang, apa yang terjadi pada kita?

Para jagoan jagat raya adalah mereka yang telah mengerti benar rahasia agama dalam kehidupan. Rasa keberagamaan dalam hidupnya. Agama bagi mereka bukan lagi melulu ancaman dan iming-iming melainkan jadi buluh perindu yang membebaskan mereka dari derita, dan dengan sangat percaya diri, turut menyelamatkan orang lain yang masih terperangkap dalam jebakan dunia spiritual–yang masih dilamun kebingungan teramat sangat–tentang betapa tuhan butuh disembah manusia, dan tuhan seolah-olah adalah manusia adikodrati.

Letak dongeng agama ada pada kepercayaan bahwa perilaku patuh manusia kepada tuhan berdampak pada hidup yang baik-baik saja. Adem ayem tentrem kerja raharja. Pun begitu sebaliknya. Padahal jika melihat kenyataan hidup, pikiran kita bisa runyam karenanya. Manusia patuh atau membangkang, tuhan tetap baik-baik saja. Dia tetap tak tepermanai. Takkan bisa dijangkau dan dimengerti. Satu-satunya yang bisa memafhumi tuhan dan segala tentang-Nya, ya tuhan saja. Kita hanya sedang menjalani suratan takdir–yang ajaib.

Sekadar pembanding. Para mafia bisa hidup nyaman dan tenang. Bebas ke mana saja. Melakukan yang mereka suka. Para kiai pun ada yang begitu. Pertanyaannya adalah, apakah mafia dan kiai adalah golongan yang sama? Kita tak perlu terlalu jauh menyeret soal itu sampai ke akhirat. Toh tak satu pun kita tahu bagaimana kondisi akhirat sesungguhnya. Terlepas dari akhirat memang ada, tugas kita sederhana saja: menemukan jawaban apakah mematuhi atau membangkangi perintah tuhan berbanding lurus dengan hidup yang kita jalani?

Salah satu petunjuk yang bisa kita pakai jika merunut Al-Qur’an adalah, “Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Ahzab [33]: 2). Berdasar ayat ini saja, kita sudah bisa merenungi apakah tuhan memerlukan bantuan malaikat pencatat amal? Mengikuti petunjuk tak berbanding lurus dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Bagaimana cara melaksanakan dan menjauhi, sedang hidup kita sejak awal sudah direncanakan secara rinci oleh-Nya.

Dalam surah Hud [11]: 106-108 terdapat keterangan bahwa, orang celaka dan berbahagia, tempatnya di dalam neraka dan surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhan menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada terputus. Dua tempat itu jadi tema besar umat beragama. Khususnya agama Samawi. Surga-neraka kerap dialamatkan berada di kejauhan daya tangkap akal. Padahal Al-Qur’an menegaskan sebaliknya.

Al-Qur’an pun terkadang masih menyelipkan “jebakan Batman” bagi umat Islam. Dalam surah Hud 106-108 itu bisa kita temukan jebakannya. Bagaimana mungkin kita yang terbatas ini bisa mengalami kekekalan? Sebab, pada kenyataannya kita semua fana’ (sementara), rusak, dan binasa. Hanya barang ciptaan. Tuhan saja yang kekal abadi. Tak berawal. Tanpa akhir. Satu-satunya yang sanggup meliputi segala sesuatu dalam satu waktu. Dia tak berbilang. Tak berkedudukan. Bukan arah-tujuan. Dia mengatasi segala ciptaan-Nya. Melampaui semua konsep pikiran. Tiada berbatas tapi menjadi batas. Tampak sekaligus tidak.

Dongeng agama dalam bentuk lain jelas masih bertebaran dan dipercaya banyak orang sampai saat ini. Entah siapa yang membuatnya pertama kali, kita pasti kesulitan mencari tahu. Lucunya, jika dongeng semacam itu kita nafikan, mayoritas orang yang beragama secara doktriner-dogmatis akan berunjuk rasa. Seolah merekalah kuncennya agama. Penjaga gawang agama yang ditunjuk oleh tuhan. Persis yang dialami Husein Manshur Al-Hallaj yang dieksekusi mati di Baghdad pada 27 Maret 922 M, di hadapan ribuan pasang mata yang meradang. Ingat, itu terjadi seribuan tahun lalu.

Agama yang hanya diterima sebagai warisan semata menganut dan mempercayai agama. Kenapa menjadi Muslim dan bukan Nasrani atau Yahudi? Akal sebagai anugerah terbesar yang diberikan tuhan kepada kita sama sekali tak digunakan dengan baik.

Kita telanjur senang ditakuti, diimingi, disuapi. Padahal kita perlu bertanya pada diri sendiri secara kritis; jika agama hanya berujung pada pertikaian belaka antarmanusia dan sarana menyelamatkan diri pribadi, maka apa fungsinya agama ada di dunia?

*Ren Muhammad*

Comments

Populer Post

Seminggu Menjadi ATEIS

Cakra duduk menepi di pinggir sungai yang mengalir di sebuah kota kecil yang mulai ramai dicabik zaman. Ia sendirian, tanpa ada suara yang sudi mengajaknya bersandar dengan gurau. Tiba-tiba saja terlintas sebuah keinginan yang mencuat dari dalam benaknya. Ia ingin menjadi ateis. Setidaknya dalam waktu satu minggu saja. Cakra melangkah dengan pasti. Ya, ia rasa apa yang baru saja ia pikirkan adalah sebuah ide gila yang sekiranya menyimpan permata penuh arti. Ia tersenyum, entah menyunggingkan bibir untuk apa, ia sendiri tak tahu. Satu hal yang terlihat jelas, Cakra ingin menjadi ateis selama satu minggu. “Kau gila!” ujar Herna menanggapi rencana yang ingin dijalani oleh Cakra. “Kau kira main-main. Sadarlah kawan. Ah, kau benar-benar sesat,” lanjutnya. Cakra hanya tersenyum. Nyaris tak ada pembelaan dari pria kurus ini untuk tanggapan yang dilayangkan oleh Herna. “Kita sudah berteman lama, Cak. Hentikan kegilaanmu, atau apakah engkau sudah benar-benar gila?” Kata Herna sembari ...

Politik dan Gelak Tawa

Seiring mengemukanya peran media sosial beberapa waktu terakhir, politik yang sesungguhnya urusan sangat serius itu, tak hanya hadir secara kian interaktif di hadapan kita, tetapi juga tampil dengan wajah penuh lelucon. Kini, baik di WhatsApp, Facebook, maupun Twitter, mungkin hampir setiap hari kita melihat meme, artikel, dan status, yang menampilkan anekdot, satirisme lucu, hingga olokan tentang politik maupun elite-elite yang dianggap nganeh-nganehi. Sejumlah orang meyakini, kekuatan lelucon punya potensi mendekonstruksi, dan bahkan, melumpuhkan mitos-mitos kekuasaan. Yang lain mempercayai, gelak tawa muncul hendak mengungkapkan kebenaran yang disembunyikan. Singkatnya, dengan lelucon kritik dan perlawanan terhadap "ketidakwarasan" penguasa dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan, menghibur, tapi sekaligus diharapkan memiliki daya untuk mengingatkan penguasa agar tak mengulang hal yang sama jika tak berkenan ditertawakan. Namun, belakangan, melihat realitas yang a...

Kebodohan Orang-Orang Cerdas

Oleh Reza A.A Wattimena Banyak orang cerdas di dunia ini. Mereka tersebar di berbagai tempat. Mereka dilahirkan dengan kemampuan intelektual yang tinggi. Di banyak tempat, kecerdasan intelektual semacam ini dikagumi dan dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Hidup yang Mulus Mereka mungkin pandai menghitung. Matematika dan fisika bukanlah sesuatu yang sulit bagi mereka. Teknik dan komputer pun dengan mudah mereka kuasai. Sekolah bukanlah sesuatu yang sulit untuk dikerjakan. Mereka juga bisa pandai menghafal. Beberapa bahkan memiliki ingatan fotografik. Mereka mampu mengingat secara persis apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Ujian-ujian sekolah dan universitas pun dengan mudah dikerjakan secara sempurna. Orang-orang cerdas ini biasanya mempunyai pendidikan tinggi. Walaupun lahir dari keluarga miskin, kesempatan mereka untuk mendapatkan beasiswa cukup tinggi. Mereka biasanya bergelar master atau doktor dari institusi pendidikan ternama. Beberapa bahkan ...

Upaya Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia (Telaah Pemikiran Azyumardi Azra) Bagian I

Berbicara pendidikan Islam di Indonesia pada saat ini senantiasa mengundang banyak perhatian dari berbagai kalangan, mulai dari pengamat pendidikan, pakar, praktisi, hingga masyarakat awam. Hal itu terjadi karena pendidikan mampu memberikan berbagai dimensi kajian dan persoalan yang sangat kompleks dan problematik. Berawal dari Abad ke-21, dalam tataran teoritik konseptual pendidikan Islam mengalami kemandekan akut akibat kuatnya pengaruh dari sistem pendidikan tradisional. Selain itu, pendidikan Islam saat ini masih bercorak teologis normatif tanpa memikirkan kontekstualnya. Akibatnya, pendidikan Islam di Indonesia sering mengalami keterlambatan dalam merumuskan diri untuk merespon perubahan dan kecenderungan masyarakat sekarang dan akan datang. Pendidikan Islam saat ini masih terus tetap berorientasi pada masa silam daripada berorientasi ke masa depan sehingga akibatnya pendidikan Islam sering kalah bersaing dengan dalam banyak segi dari pendidikan umum. Bahkan, jika dilihat...

Kekerasan Kitab Suci “Tanakh” Agama Yahudi

Tanakh adalah istilah atau nama lain dari kitab suci agama Yahudi dalam bahasa Ibrani. Dalam bahasa Yunani disebut dengan Pentateukh (“Lima Wadah” atau “Lima Gulungan”). Kitab tersebut terdiri dari lima  kitab diantaranya; Kitab Kejadian/ beresyit, kitab Keluaran/ syemot, kitab Imamat/ wayiqra , kitab Bilangan/ bemidbar, dan kitab Ulangan/ debarim . Kitab ini dalam pemahaman Islam disebut dengan istilah “Kitab Taurat” Yang menjadi pertanyaan disini, apakah benar Kitab Suci membenarkan kekerasan? Pertanyaan ini terasa lelucon belaka bagi mereka yang menganggap agama itu hanya mengajarkan hal-hal yang baik, seperti perdamaian, tolong-menolong, persamaan, dan keadilan. Tapi pada kenyataannya, Kitab Suci menggambarkan kekerasan dalam beragam bentuk. Baik dari himbaun secara lisan dan praktik kekerasan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh sentral kitab suci hingga Tuhan sendiri yang digambarkan bahkan melakukan kekerasan sendiri. Tulisan ini akan dimulai dengan “warisan bermasalah” ...