Skip to main content

Menulis Sejarah Islam Dari Pinggiran

Menulis Sejarah Islam dari Pinggiran
Oleh : Mun’im Sirry

Sejarah Islam itu ditulis dari perspektif imperialis. Pengaruh imperialisme dapat ditelisik dalam setiap lembaran sejarah yang menyajikan kemunculan dan perkembangan Islam. Inilah agama terakhir yang sempurna, yang diturunkan Tuhan untuk seluruh jagat raya. Penaklukan dan perluasan wilayah digambarkan sebagai karunia Ilahi, bukti kebenaran Islam. Para sejarawan Muslim menyebut ekspansi kekuasaan sebagai “pembukaan” (futuh), istilah yang mengingatkan kita pada slogan kaum imperialis Barat modern, “the white man’s burden.”
Kelengketan agenda imperialisme dalam narasi sejarah mudah dimengerti karena kitab-kitab sejarah Islam memang ditulis saat kekuasaan Muslim begitu dominan. Ibn Ishaq (wafat 767), misalnya, sejarawan paling awal yang karyanya sampai kepada kita sekarang, memang menulis karyanya untuk dipersembahkan kepada penguasa Abbasiyah.
Bagaimana jika sejarah ditulis dari perspektif kaum pinggiran, mereka yang ditaklukkan? Gambaran apa yang akan kita lihat?
Masalah Sumber
Sejak akhir 1970-an, sebenarnya sudah ada eksperimen intelektual untuk menulis sejarah Islam dari sumber-sumber yang ditulis oleh non-Muslim, terutama Yahudi dan Kristen. Patricia Crone dan Michael Cook menulis Hagarism and the Making of Islamic World (1977) yang menggetarkan dunia intelektual, karena mereka sama sekali mengabaikan sumber-sumber Muslim.
Saya sudah mendiskusikan kenapa Crone dan Cook menulis karya provokatif itu dalam Kontroversi Islam Awal (2015). Banyak sarjana menolak keras kesimpulan Hagarism, tapi diam-diam mereka mengagumi lompatan metodologisnya. Artinya, memang secara metodologis ada masalah serius soal akurasi sumber-sumber Muslim dilihat dari kritik historis.
Dua puluh tahun berikutnya, Robert Hoyland menerbitkan karyanya yang sangat ambisius, Seeing Islam as Others Saw It (1997). Buku ini merupakan survei cukup komprehensif atas tulisan tentang kemunculan Islam yang ditulis oleh orang Yahudi, Kristen, dan Majuzi dalam berbagai bahasa, termasuk Cina. Buku dengan angle yang lebih fokus ditulis oleh Stephen Shoemaker, yang hanya menyorot–sebagaimana judulnya–The Death of a Prophet (2011).
Baik Hoyland maupun Shoemaker melacak catatan-catatan yang berserakan dalam kurun waktu tiga abad pertama Islam, yang ditulis oleh non-Muslim. Tentu saja catatan tersebut tidak serta-merta bisa dikatakan lebih akurat dari sumber-sumber Muslim.
Lagi pula sejarah Islam yang disajikan Hoyland and Shoemaker itu tidak juga dapat dikatakan ditulis dari perspektif pinggiran. Sebagian besar tulisan-tulisan tersebut ditulis oleh mereka yang tidak berada di bawah kekuasaan Muslim, dan karena itu tidak merefleksikan kenyataan yang sebenarnya. Contoh bagus bagaimana sejarah Islam digambarkan oleh kaum pinggiran ialah karya Michael Penn,Envisioning Islam: Syriac Christians and the Early Muslim World (2015).
Sebagaimana terlihat dari judulnya, buku ini mendiskusikan pandangan kaum Kristen yang ditaklukkan penguasa Muslim dari sejak paruh kedua abad ke-7 hingga ke-9. Mereka memilih menulis reaksi mereka atas ekspansi Islam dalam bahasa Suryani (Syriac), yang merupakan lingua franca di kalangan Kristen saat itu. Hasilnya ialah potret Islam berbeda dari deskripsi imperialis Muslim.
Cairnya Identitas Keagamaan
Temuan Penn menguatkan tesis kesarjanaan revisionis yang saya diskusikan dalam Kontroversi Islam Awal. Yakni, bahwa formasi identitas ke-Muslim-an terjadi lebih perlahan daripada yang kita duga selama ini. Dalam literatur Suryani (Syriac literature), minimal hingga paruh kedua abad ke-8, para penakluk Arab itu tidak pernah disebut “Muslim” yang membawa agama distingtif bernama “Islam”. Istilah-istilah yang digunakan untuk merujuk kepada orang Arab ialah “tayyaye” (suku Arab), “sarqaye” (Saracen), “mhaggraye” (anak Hajar) dan “bnay ‘ishmael” atau “’ishmaelaye” (keturunan Isma’il).
Baru dalam Chronicle of Zuqnin yang ditulis tahun 775 (penulisnya tidak bisa dilacak) kata “mashlmane” (kaum Muslim) pertama kali muncul. Bisa dipastikan, sejak akhir abad ke-8, orang-orang Kristen yang hidup di bagian utara Arabia mulai melihat perbedaan keyakinan yang dibawa kaum Muslim, sebuah agama yang berbeda dari Kristen.
Kenyataannya, sumber-sumber Suryani menggambarkan kekhawatiran para pamimpin Kristen atas kaburnya batasan antar berbagai entitas keyakinan. Kita temukan banyak contoh di mana kaum Kristen dan Muslim menggunakan tempat ibadah yang sama, makan bersama, kawin silang dan barbaur dalam pergaulan. Maronite Chronicle yang bisa dilacak pada tahun 660 menceritakan Khalifah Mu’awiyah melaksanakan salat di Gereja Golgotha, kemudian di Gethsemane, dan di kuburan Maryam.
Ketika Hisyam bin Abdulmalik, khalifah ke-10 dari Dinasti Umayyah, memutuskan untuk mendirikan masjid di kota Rusafa di mana berdiri Gereja Basilika yang terkenal, dia memerintahkan arsiteknya supaya pintu masuk masjid berhadapan dengan halaman Gereja Basilika. Padahal, Basilika berada di posisi arah kiblat.
Dengan arsitektur seperti itu, jemaah masjid dan gereja saling berinteraksi dan menyaksikan pelaksanaan ibadah masing-masing. Juga diceritakan kedermawanan para penguasa Muslim mendanai pembangunan gereja dan biara Kristen.
Narasi-narasi tersebut sama sekali tidak mengesankan bahwa mereka datang untuk memaksakan agama, atau bahwa Islam datang untuk menghapus agama sebelumnya. Berdasarkan data itu, orang bisa saja berargumen bahwa Islam awal merepresentasikan agama toleran. Namun, kita tak mungkin berbicara konsep toleransi pada Abad Pertengahan sebagaimana kita pahami saat ini.
Bacaan alternatifnya ialah, dilihat dari perspektif pinggiran, minimal hingga pertengahan abad ke-8, Islam belum menjadi entitas keagamaan yang distingtif dari agama-agama sebelumnya.

Comments

Populer Post

Seminggu Menjadi ATEIS

Cakra duduk menepi di pinggir sungai yang mengalir di sebuah kota kecil yang mulai ramai dicabik zaman. Ia sendirian, tanpa ada suara yang sudi mengajaknya bersandar dengan gurau. Tiba-tiba saja terlintas sebuah keinginan yang mencuat dari dalam benaknya. Ia ingin menjadi ateis. Setidaknya dalam waktu satu minggu saja. Cakra melangkah dengan pasti. Ya, ia rasa apa yang baru saja ia pikirkan adalah sebuah ide gila yang sekiranya menyimpan permata penuh arti. Ia tersenyum, entah menyunggingkan bibir untuk apa, ia sendiri tak tahu. Satu hal yang terlihat jelas, Cakra ingin menjadi ateis selama satu minggu. “Kau gila!” ujar Herna menanggapi rencana yang ingin dijalani oleh Cakra. “Kau kira main-main. Sadarlah kawan. Ah, kau benar-benar sesat,” lanjutnya. Cakra hanya tersenyum. Nyaris tak ada pembelaan dari pria kurus ini untuk tanggapan yang dilayangkan oleh Herna. “Kita sudah berteman lama, Cak. Hentikan kegilaanmu, atau apakah engkau sudah benar-benar gila?” Kata Herna sembari ...

Politik dan Gelak Tawa

Seiring mengemukanya peran media sosial beberapa waktu terakhir, politik yang sesungguhnya urusan sangat serius itu, tak hanya hadir secara kian interaktif di hadapan kita, tetapi juga tampil dengan wajah penuh lelucon. Kini, baik di WhatsApp, Facebook, maupun Twitter, mungkin hampir setiap hari kita melihat meme, artikel, dan status, yang menampilkan anekdot, satirisme lucu, hingga olokan tentang politik maupun elite-elite yang dianggap nganeh-nganehi. Sejumlah orang meyakini, kekuatan lelucon punya potensi mendekonstruksi, dan bahkan, melumpuhkan mitos-mitos kekuasaan. Yang lain mempercayai, gelak tawa muncul hendak mengungkapkan kebenaran yang disembunyikan. Singkatnya, dengan lelucon kritik dan perlawanan terhadap "ketidakwarasan" penguasa dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan, menghibur, tapi sekaligus diharapkan memiliki daya untuk mengingatkan penguasa agar tak mengulang hal yang sama jika tak berkenan ditertawakan. Namun, belakangan, melihat realitas yang a...

Kebodohan Orang-Orang Cerdas

Oleh Reza A.A Wattimena Banyak orang cerdas di dunia ini. Mereka tersebar di berbagai tempat. Mereka dilahirkan dengan kemampuan intelektual yang tinggi. Di banyak tempat, kecerdasan intelektual semacam ini dikagumi dan dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Hidup yang Mulus Mereka mungkin pandai menghitung. Matematika dan fisika bukanlah sesuatu yang sulit bagi mereka. Teknik dan komputer pun dengan mudah mereka kuasai. Sekolah bukanlah sesuatu yang sulit untuk dikerjakan. Mereka juga bisa pandai menghafal. Beberapa bahkan memiliki ingatan fotografik. Mereka mampu mengingat secara persis apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Ujian-ujian sekolah dan universitas pun dengan mudah dikerjakan secara sempurna. Orang-orang cerdas ini biasanya mempunyai pendidikan tinggi. Walaupun lahir dari keluarga miskin, kesempatan mereka untuk mendapatkan beasiswa cukup tinggi. Mereka biasanya bergelar master atau doktor dari institusi pendidikan ternama. Beberapa bahkan ...

Upaya Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia (Telaah Pemikiran Azyumardi Azra) Bagian I

Berbicara pendidikan Islam di Indonesia pada saat ini senantiasa mengundang banyak perhatian dari berbagai kalangan, mulai dari pengamat pendidikan, pakar, praktisi, hingga masyarakat awam. Hal itu terjadi karena pendidikan mampu memberikan berbagai dimensi kajian dan persoalan yang sangat kompleks dan problematik. Berawal dari Abad ke-21, dalam tataran teoritik konseptual pendidikan Islam mengalami kemandekan akut akibat kuatnya pengaruh dari sistem pendidikan tradisional. Selain itu, pendidikan Islam saat ini masih bercorak teologis normatif tanpa memikirkan kontekstualnya. Akibatnya, pendidikan Islam di Indonesia sering mengalami keterlambatan dalam merumuskan diri untuk merespon perubahan dan kecenderungan masyarakat sekarang dan akan datang. Pendidikan Islam saat ini masih terus tetap berorientasi pada masa silam daripada berorientasi ke masa depan sehingga akibatnya pendidikan Islam sering kalah bersaing dengan dalam banyak segi dari pendidikan umum. Bahkan, jika dilihat...

Kekerasan Kitab Suci “Tanakh” Agama Yahudi

Tanakh adalah istilah atau nama lain dari kitab suci agama Yahudi dalam bahasa Ibrani. Dalam bahasa Yunani disebut dengan Pentateukh (“Lima Wadah” atau “Lima Gulungan”). Kitab tersebut terdiri dari lima  kitab diantaranya; Kitab Kejadian/ beresyit, kitab Keluaran/ syemot, kitab Imamat/ wayiqra , kitab Bilangan/ bemidbar, dan kitab Ulangan/ debarim . Kitab ini dalam pemahaman Islam disebut dengan istilah “Kitab Taurat” Yang menjadi pertanyaan disini, apakah benar Kitab Suci membenarkan kekerasan? Pertanyaan ini terasa lelucon belaka bagi mereka yang menganggap agama itu hanya mengajarkan hal-hal yang baik, seperti perdamaian, tolong-menolong, persamaan, dan keadilan. Tapi pada kenyataannya, Kitab Suci menggambarkan kekerasan dalam beragam bentuk. Baik dari himbaun secara lisan dan praktik kekerasan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh sentral kitab suci hingga Tuhan sendiri yang digambarkan bahkan melakukan kekerasan sendiri. Tulisan ini akan dimulai dengan “warisan bermasalah” ...