Skip to main content

Politik dan Gelak Tawa


Seiring mengemukanya peran media sosial beberapa waktu terakhir, politik yang sesungguhnya urusan sangat serius itu, tak hanya hadir secara kian interaktif di hadapan kita, tetapi juga tampil dengan wajah penuh lelucon.

Kini, baik di WhatsApp, Facebook, maupun Twitter, mungkin hampir setiap hari kita melihat meme, artikel, dan status, yang menampilkan anekdot, satirisme lucu, hingga olokan tentang politik maupun elite-elite yang dianggap nganeh-nganehi.

Sejumlah orang meyakini, kekuatan lelucon punya potensi mendekonstruksi, dan bahkan, melumpuhkan mitos-mitos kekuasaan. Yang lain mempercayai, gelak tawa muncul hendak mengungkapkan kebenaran yang disembunyikan.

Singkatnya, dengan lelucon kritik dan perlawanan terhadap "ketidakwarasan" penguasa dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan, menghibur, tapi sekaligus diharapkan memiliki daya untuk mengingatkan penguasa agar tak mengulang hal yang sama jika tak berkenan ditertawakan.

Namun, belakangan, melihat realitas yang ada, saya mulai ragu dengan "kemanjuran" dan keefektifan humor, satir, dan lelucon politik ini, sebagai alat perlawanan dalam politik. Sebab, kenyataan menunjukkan, elite-elite di negeri ini justru kian kebal dengan satirisme bahkan olokan apapun. Kaum oligark tetap sibuk berkasak-kusuk dengan logika kepentingan elitis mereka, meski sehari sebelumnya beberapa di antaranya dengan begitu rupa digambarkan sebagai segolongan tikus maupun ular berbisa yang jenaka nan rakus.

Sementara, kengawuran logika, kebijakan politik yang bertentangan dengan nalar publik, perilaku politik yang kurang patut, dan ketidakkonsistenan kata dan tindakan, justru kian akrab dalam keseharian politik hari ini. Hingga tidak heran kiranya ada seorang pemimpin yang kemarin mengatakan parpol layaknya sampah hina, tapi kini berdekap mesra dengan parpol.

Atau, seorang elite yang pernah mengatakan agar anggota TNI/Polri tidak bermimpi menjadi kepala daerah, tapi kini menyorongkan anaknya yang seorang perwira aktif TNI maju sebagai calon gubernur. Atau, misalnya, seorang elite yang dulu dengan gagah menyebut kelompok lawannya sebagai kumpulan mafia, tapi hari ini menjabat erat tangan lawan yang dulu disebutnya mafia itu demi dukungan politik. Dan tentu masih banyak lagi bentuk ketidakkonsistenan lainnya.

Publik memang bereaksi. Umumnya, dan ini yang paling lazim, mengolok-oloknya dengan beragam meme dan satire. Namun, ya sebatas itu. Semua orang tertawa, termasuk sang elite, lalu selesai. Cela ada untuk ditertawakan, lalu dilupakan, dan bisnis berjalan seperti biasa.

Memang, sejak lama politik telah mengajarkan kita tentang sikap konsisten untuk tidak konsisten. Tapi, melihat kenyataan di masa kini di mana ketidakkonsistenan menjadi sekadar gelak tawa biasa, sementara mengulanginya berkali-kali tak berpreseden apapun, jelas ini sangat menyesakkan dada.

Humor politik memang menghibur khalayak. Pada awalnya hal itu dipandang sebagai cara yang cerdas. Namun, ketika humor-humor yang dianggap bernilai adilihung itu hadir semudah embusan nafas Mukidi, dia akhirnya berhenti sebagai hiburan semata.

Derajatnya kian profan. Menghibur untuk kemudian dengan cepat terkubur. Terlebih, setelah semua pihak ternyata juga menggunakan cara yang sama untuk mengritik satu sama lain. Humor politik akhirnya semata tereduksi sebagai alat chit chat jamaah lover melawan hater dan begitupun sebaliknya.

Namun, yang jauh lebih meresahkan adalah ternyata kini banyak elite yang menggunakan lelucon dan olok-olokan sebagai alat politik mereka. Contoh teraktual, seiring dimulainya prosesi Pemilihan Kepala Daerah di berbagai kota yang akan hadir sesaat lagi.

Mereka saling serang. Ragam olok-olokan, satir, dan meme yang menjatuhkan kubu lain nyaris setiap satu jam sekali muncul di linimasa media sosial maupun di grup-grup WhatsApp. Catatan perihal ketidakkonsistenan kata-kata dan sikap politik dari para calon di masa lalu adalah isu yang paling marak menjadi komoditas. Uniknya, sebagian besar serangan diwujudkan dalam bentuk guyonan, lelucon, dan anekdot.

Tentu, lelucon serangan itu bukan dibuat langsung oleh masing-masing pasangan calon, tetapi sangat mungkin oleh barisan tim sukses ataupun pendukungnya. Hal ini menunjukkan, elite politik kini ternyata tidak hanya terbiasa memproduksi lelucon melalui sikap, perilaku, dan kebijakan politik, tetapi bahkan tak kalah canggih dalam membuat gimik-gimik gelak tawa politik, seperti info anekdot dan meme, untuk kepentingan politik mereka.

Lelucon politik, yang awalnya menjadi cara menyenangkan untuk mencela kejahatan dalam sistem politik dan pemimpinnya, menjadi senjata untuk menertawakan, mengolok, dan mendekonstruksi siapa dan apa saja. Bahkan, kelas penguasa pun bisa menggunakannya untuk mendeligitimasi lawan mereka. Makna gelak tawa berkelindan dalam beraneka warna kepentingan, bersimpang siur dengan rekayasa; tanda melebur dengan realitas; hingga dusta pun bisa saja bersenyawa dengan kebenaran.

Inilah zaman ketika malaikat dan iblis dapat saling tertawa bersahutan. Padahal, seperti kata Milan Kundera dalam the Book of Laughter and Forgetting, semestinya harus menjadi jelas bagi malaikat bahwa gelak tawa iblis selalu dimaksudkan untuk menentang tuhan, bukan malah mengikuti tawa iblis. Oleh karena itu, sebut Kundera kemudian, gelak tawa yang memancing tawa adalah malapetaka. Jika benar kalimat Kundera tersebut, maka bisa jadi politik kita sedang dalam malapetaka.

Comments

Populer Post

Seminggu Menjadi ATEIS

Cakra duduk menepi di pinggir sungai yang mengalir di sebuah kota kecil yang mulai ramai dicabik zaman. Ia sendirian, tanpa ada suara yang sudi mengajaknya bersandar dengan gurau. Tiba-tiba saja terlintas sebuah keinginan yang mencuat dari dalam benaknya. Ia ingin menjadi ateis. Setidaknya dalam waktu satu minggu saja. Cakra melangkah dengan pasti. Ya, ia rasa apa yang baru saja ia pikirkan adalah sebuah ide gila yang sekiranya menyimpan permata penuh arti. Ia tersenyum, entah menyunggingkan bibir untuk apa, ia sendiri tak tahu. Satu hal yang terlihat jelas, Cakra ingin menjadi ateis selama satu minggu. “Kau gila!” ujar Herna menanggapi rencana yang ingin dijalani oleh Cakra. “Kau kira main-main. Sadarlah kawan. Ah, kau benar-benar sesat,” lanjutnya. Cakra hanya tersenyum. Nyaris tak ada pembelaan dari pria kurus ini untuk tanggapan yang dilayangkan oleh Herna. “Kita sudah berteman lama, Cak. Hentikan kegilaanmu, atau apakah engkau sudah benar-benar gila?” Kata Herna sembari ...

Kebodohan Orang-Orang Cerdas

Oleh Reza A.A Wattimena Banyak orang cerdas di dunia ini. Mereka tersebar di berbagai tempat. Mereka dilahirkan dengan kemampuan intelektual yang tinggi. Di banyak tempat, kecerdasan intelektual semacam ini dikagumi dan dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Hidup yang Mulus Mereka mungkin pandai menghitung. Matematika dan fisika bukanlah sesuatu yang sulit bagi mereka. Teknik dan komputer pun dengan mudah mereka kuasai. Sekolah bukanlah sesuatu yang sulit untuk dikerjakan. Mereka juga bisa pandai menghafal. Beberapa bahkan memiliki ingatan fotografik. Mereka mampu mengingat secara persis apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Ujian-ujian sekolah dan universitas pun dengan mudah dikerjakan secara sempurna. Orang-orang cerdas ini biasanya mempunyai pendidikan tinggi. Walaupun lahir dari keluarga miskin, kesempatan mereka untuk mendapatkan beasiswa cukup tinggi. Mereka biasanya bergelar master atau doktor dari institusi pendidikan ternama. Beberapa bahkan ...

Upaya Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia (Telaah Pemikiran Azyumardi Azra) Bagian I

Berbicara pendidikan Islam di Indonesia pada saat ini senantiasa mengundang banyak perhatian dari berbagai kalangan, mulai dari pengamat pendidikan, pakar, praktisi, hingga masyarakat awam. Hal itu terjadi karena pendidikan mampu memberikan berbagai dimensi kajian dan persoalan yang sangat kompleks dan problematik. Berawal dari Abad ke-21, dalam tataran teoritik konseptual pendidikan Islam mengalami kemandekan akut akibat kuatnya pengaruh dari sistem pendidikan tradisional. Selain itu, pendidikan Islam saat ini masih bercorak teologis normatif tanpa memikirkan kontekstualnya. Akibatnya, pendidikan Islam di Indonesia sering mengalami keterlambatan dalam merumuskan diri untuk merespon perubahan dan kecenderungan masyarakat sekarang dan akan datang. Pendidikan Islam saat ini masih terus tetap berorientasi pada masa silam daripada berorientasi ke masa depan sehingga akibatnya pendidikan Islam sering kalah bersaing dengan dalam banyak segi dari pendidikan umum. Bahkan, jika dilihat...

Kekerasan Kitab Suci “Tanakh” Agama Yahudi

Tanakh adalah istilah atau nama lain dari kitab suci agama Yahudi dalam bahasa Ibrani. Dalam bahasa Yunani disebut dengan Pentateukh (“Lima Wadah” atau “Lima Gulungan”). Kitab tersebut terdiri dari lima  kitab diantaranya; Kitab Kejadian/ beresyit, kitab Keluaran/ syemot, kitab Imamat/ wayiqra , kitab Bilangan/ bemidbar, dan kitab Ulangan/ debarim . Kitab ini dalam pemahaman Islam disebut dengan istilah “Kitab Taurat” Yang menjadi pertanyaan disini, apakah benar Kitab Suci membenarkan kekerasan? Pertanyaan ini terasa lelucon belaka bagi mereka yang menganggap agama itu hanya mengajarkan hal-hal yang baik, seperti perdamaian, tolong-menolong, persamaan, dan keadilan. Tapi pada kenyataannya, Kitab Suci menggambarkan kekerasan dalam beragam bentuk. Baik dari himbaun secara lisan dan praktik kekerasan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh sentral kitab suci hingga Tuhan sendiri yang digambarkan bahkan melakukan kekerasan sendiri. Tulisan ini akan dimulai dengan “warisan bermasalah” ...