Skip to main content

Ketika Manusia Menciptakan Tuhan




Setelah menyaksikan film yang diperankan Aamir Khan dan Anushka Sharma yang berjudul PK, saya seolah ditarik dalam lembah perenungan untuk kembali berpikir. Isi dari film itu lumayan berat, tentu bagi yang mengenal apalagi memaknai agama dan Tuhan secara instan.


Kendati dikemas dalam konteks komedi satir, film itu justru berhasil ketika melihat ukuran pendapatan yang diraih. Film ini diberi jempol oleh berbagai negara. Meski film ini dirilis pada tahun 2014, hingga sekarang masih ramai dalam perbincangan.

Dalam film itu mengisahkan Aamir Khan adalah seorang penghuni planet lain yang ditugaskan untuk sebuah misi penelitian di bumi. Misinya kemudian berlanjut setelah liontin miliknya dirampas paksa oleh seorang yang ia tak kenali. Karena tanpa liontin itu, maka mutlak baginya menjadi penduduk bumi untuk selamanya.

Sepanjang pencarian liontin yang ia sebut “Remot Kontrol” itu, yang ia temukan, orang-orang hanya menjawab seraya berpasrah, “Hanya Tuhan yang dapat menolongmu!”

Ketika mendengar nama Tuhan, saat itulah ia terperangkap dalam pertanyaan-pertanyaan dogmatis yang ia ciptakan sendiri. Mirip kanak-kanak yang masih diselimuti banyak pertanyaan tentang isi alam semesta.

Siapa Tuhan itu? Ia tidak tahu. Yang jelas, baginya, hanya Tuhan-lah yang mampu menolong menemukan kembali Remot Kontrolnya lewat jawaban dari orang-orang yang ia dapatkan.

Jangankan Tuhan, ia sendiri bahkan tak mengetahui siapa namanya. Sebab, di planet asalnya, mereka tak mengenal “apa-apa” yang menjadi kebiasaan dan kepercayaan manusia di bumi. Ia akhirnya dinamai PeeKay yang diartikan sebagai orang mabuk, sebab tingkah anehnya itu dalam mencari Tuhan dianggap sedang mabuk.

PeeKay kalang kabut dalam pencarian dan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya. Jika di tiap agama memiliki Tuhan-nya masing-masing, lalu manakah yang meletakkan kebenaran absolut di dalamnya? Ia akhirnya memutuskan untuk menjadikan semua agama menjadi agamanya.

Sebab, dengan begitu, maka potensi untuk bertemu langsung oleh Tuhan tentu lebih besar dibanding memiliki hanya satu Tuhan saja. Setelah tidak sedikit waktu ia habiskan dalam mengarungi berbagai ritual dalam keagamaan, PeeKay justru kembali menemukan keanehan yang ada.

Para pemuka-pemuka agama itulah yang memberinya berbagai keanehan dalam agama itu sendiri. Jika Tuhan menyama-ratakan tiap umatnya, lalu mengapa ketika hendak menemuiNya mesti melalui perantara pemuka agama? Apa lagi tak sedikit para pemuka agama itu meraih untung yang banyak dari setiap umat yang menemuinya.

Seolah pemuka agama ini hadir di tengah umat sebagai media untuk menyampaikan keluh kesah umat ke pada Tuhan. Sementara itu, pemuka agama tersebut kian berkantong tebal, sebab umat semakin terkuras dieksploitasi.

Hingga di akhir kisah, Peekay pun berhasil merobohkan kebohongan yang diciptakan para pemuka agama itu. Ia ditemani oleh seorang wartawan perempuan yang diperankan oleh Anushka Sharma. Mereka membuka kedok bisnis besar yang dibungkus agama.

Dari kisah film itu, tentu banyak hal yang dapat dipelajari. Menjadi hikmah bagi yang merenunginya dan menjadi kebencian bagi yang tak menyukainya. Kisah itu menjadi menarik betul ketika kita melihat dan mengaitkan realitas di tengah generasi media saat ini. Alur ceritanya berhasil menggambarkan bagaimana situasi umat beragama sekarang ini

Pesan moral dari film itu adalah hendak menyampaikan bahwa tidak sedikit umat sekarang ini dijebak dalam simbol-simbol agama oleh pemuka agama. Kemasan agama yang seolah menunjukkan perbedaan di tiap peyakinnya tentu melukai nilai-nilai agama itu sendiri. Bahkan, tak sedikit pula yang mengeksploitasi agama sedemikian rupa.

Jika simbol-simbol agama secara tersirat hadir sebagai alat untuk membedakan ia agama “ini” dan “itu”, lalu apakah kemudian simbol itu berlaku bagi Tuhan? Sedang Tuhan sendiri tidak sekalipun mewahyukan jika simbol adalah syarat mutlak untuk membedakan derajat manusia.

Jika demikian, bukankah Tuhan menjadi tak Agung lagi ketika simbol-simbol menjadi rujukannya untuk menilai?

Kemudian juga, bisa kita lihat betul bagaimana pemuka agama menjajakan ayat-ayat Tuhan lalu meraih untung di dalamnya. Menebus dosa, namun dengan cara memberi upah kepada pemuka agama.

Ada pula sebagian yang menjadikan “surga” sebagai ladang bisnisnya. Seolah surga menjadi milik pribadi dari pemuka agama tersebut. Tinggal bayar, masalah selesai. Surga di tanganmu!

Sekeji itukah keberadaan Tuhan? Semiskin itukah ia?

Jika hendak menilai, tentu saya akan katakan jika Tuhan telah dikemas sesuai dengan kebutuhan pelaku dan menyesuaikan situasi umat yang ada. Dengan tak sedikitnya pemuka agama menciptakan Tuhan berdasarkan keinginannya sendiri, maka ketimpangan secara menyeluruh pun menjadi akibatnya.

Semula memang kita terlahir sebagai manusia tak berpengetahuan, sama seperti yang dirasakan Aamir Khan dalam film itu (PK). Namun, oleh Tuhan, akal kemudian disematkan pada manusia, sebab pertanyaan-pertanyaan dogmatis tersebut tentu menjadi ketentuan bagi manusia yang berakal. Bagi yang tidak dengan cara menghindarinya, maka tentu tak mampu mengenali apakah yang ia yakini itu adalah Tuhan dalam imannya ataukah Tuhan ciptaan manusia.

“Tuhan tidak menciptakan akal untuk berpikir menciptakannya, melainkan untuk berpikir bagaimana mengenaliNya.”

Comments

Populer Post

Seminggu Menjadi ATEIS

Cakra duduk menepi di pinggir sungai yang mengalir di sebuah kota kecil yang mulai ramai dicabik zaman. Ia sendirian, tanpa ada suara yang sudi mengajaknya bersandar dengan gurau. Tiba-tiba saja terlintas sebuah keinginan yang mencuat dari dalam benaknya. Ia ingin menjadi ateis. Setidaknya dalam waktu satu minggu saja. Cakra melangkah dengan pasti. Ya, ia rasa apa yang baru saja ia pikirkan adalah sebuah ide gila yang sekiranya menyimpan permata penuh arti. Ia tersenyum, entah menyunggingkan bibir untuk apa, ia sendiri tak tahu. Satu hal yang terlihat jelas, Cakra ingin menjadi ateis selama satu minggu. “Kau gila!” ujar Herna menanggapi rencana yang ingin dijalani oleh Cakra. “Kau kira main-main. Sadarlah kawan. Ah, kau benar-benar sesat,” lanjutnya. Cakra hanya tersenyum. Nyaris tak ada pembelaan dari pria kurus ini untuk tanggapan yang dilayangkan oleh Herna. “Kita sudah berteman lama, Cak. Hentikan kegilaanmu, atau apakah engkau sudah benar-benar gila?” Kata Herna sembari ...

Kebodohan Orang-Orang Cerdas

Oleh Reza A.A Wattimena Banyak orang cerdas di dunia ini. Mereka tersebar di berbagai tempat. Mereka dilahirkan dengan kemampuan intelektual yang tinggi. Di banyak tempat, kecerdasan intelektual semacam ini dikagumi dan dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Hidup yang Mulus Mereka mungkin pandai menghitung. Matematika dan fisika bukanlah sesuatu yang sulit bagi mereka. Teknik dan komputer pun dengan mudah mereka kuasai. Sekolah bukanlah sesuatu yang sulit untuk dikerjakan. Mereka juga bisa pandai menghafal. Beberapa bahkan memiliki ingatan fotografik. Mereka mampu mengingat secara persis apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Ujian-ujian sekolah dan universitas pun dengan mudah dikerjakan secara sempurna. Orang-orang cerdas ini biasanya mempunyai pendidikan tinggi. Walaupun lahir dari keluarga miskin, kesempatan mereka untuk mendapatkan beasiswa cukup tinggi. Mereka biasanya bergelar master atau doktor dari institusi pendidikan ternama. Beberapa bahkan ...

Stephen Hawking, Ibn Sina, dan Eksistensi Tuhan

Ilmuwan terkemuka dunia, Stephen Hawking, mengehembuskan nafas terakhirnya pada hari Rabu, dinihari tadi. Kita ulas kembali kiprahnya di dunia sains. Ide dari tulisan ini muncul setelah membaca sebuah artikel tentang perdebatan agama dan sains beberapa waktu lalu. Atas dasar perkembangan teori penciptaan modern, penulisnya membangun pendapat tentang hubungan agama dan sains. Adalah Stephen Hawking yang memunculkan teori baru tentang keberadaan alam semesta dan sekaligus mengoreksi teori dentuman besar (big bang) Albert Einsten. Berbeda dengan Einstein, Hawking dalam penelitian terbarunya malah membuktikan bahwa alam ini tidak berawal dari sebuah dentuman besar, serta tidak pula memiliki permulaan dan akhir. Pertentangan teori sains dan agama seperti ini membuat penulisnya berpendapat bahwa sains dan agama berada dalam dua wilayah berbeda yang sama sekali tidak bisa dihubungkan. Yang menarik perhatian saya adalah kesimpulan sang ilmuan tentang penegasian eksistensi Tuhan dan kesimpu...

BELAJAR DARI MANDELA

"Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka." “Tidak ada seorang pun yang lahir dan langsung membenci orang lain karena perbedaan warna kulit, latar belakang, atau agama. Orang diajari untuk membenci, dan jika mereka dapat belajar untuk membenci, mereka juga dapat diajari untuk mengasihi sebab sifat mengasihi jauh lebih alami di hati manusia daripada membenci.” Perkataan ini diungkapkan oleh Nelson Mandela. Mandela adalah presiden Afrika Selatan pertama yang berkulit hitam dan meraih Nobel Perdamaian untuk perjuangannya membela kesamaan hak orang-orang kulit hitam. Sebuah perjuangan yang tidak mudah namun kini telah mengubah Afrika Selatan dan memengaruhi dunia ini. “Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang m...

Politik dan Gelak Tawa

Seiring mengemukanya peran media sosial beberapa waktu terakhir, politik yang sesungguhnya urusan sangat serius itu, tak hanya hadir secara kian interaktif di hadapan kita, tetapi juga tampil dengan wajah penuh lelucon. Kini, baik di WhatsApp, Facebook, maupun Twitter, mungkin hampir setiap hari kita melihat meme, artikel, dan status, yang menampilkan anekdot, satirisme lucu, hingga olokan tentang politik maupun elite-elite yang dianggap nganeh-nganehi. Sejumlah orang meyakini, kekuatan lelucon punya potensi mendekonstruksi, dan bahkan, melumpuhkan mitos-mitos kekuasaan. Yang lain mempercayai, gelak tawa muncul hendak mengungkapkan kebenaran yang disembunyikan. Singkatnya, dengan lelucon kritik dan perlawanan terhadap "ketidakwarasan" penguasa dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan, menghibur, tapi sekaligus diharapkan memiliki daya untuk mengingatkan penguasa agar tak mengulang hal yang sama jika tak berkenan ditertawakan. Namun, belakangan, melihat realitas yang a...