Skip to main content

SHALAT: Perbedaannya Dalam Iman Kristen dan Islam

 Oleh: Taufik Hidayat

Perlu dikemukakan, istilah Arab "shalat" (Aramaik: "Shelota") sama-sama dikenal baik dalam Islam maupun Kristen, khususnya Kekeristenan Timur. Sejarah Islam mencatat sekitar tahun 627 M ketika Muhammad menerima gelegasi dari Najran, orang-orang Kristen dipersilahkan shalat di masjid milik umat Islam.1 Catatan sejarah ini membuktikan bahwa ada paralel tradisi ibadah antara kedua umat beragama, sehingga istilah ini tidak asing bagi kedua komunitas iman. Al-Qur'an dan sumber Muslim mengakui bahwa "shalat" sebagai ritual keagamaan bukan pertama kali diperkenalkan Islam. Jawwad 'Ali dalam bukunya Tarikh ash-Shalat fi al-Islam, membahas paralelisasi ritual Islam ini dengan agama-agama sebelumnya, khususnya Yahudi dan Kristen. 'Ali lebih melacak asal-usul ritual shalat dalam Islam ini paralel dengan Yudaisme, 2 padahal lebih dari kedekatannya dengan Yudaisme, waktu-waktu shalat dalam Islam, ternyata lebih dekat dengan Kristen Timur.

Istilah "Tselota" (yang menjadi asal-usul kata Arab "Shalat"), 3 dijumpai dalam Kisah Para Rasul 2: 42, Pshitta: "wminim hu be sulphana de shliha we mishtautfin hwo ba tselota we baqtsaya de eukaristiya". 4 (mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu melaksanakan tselota dan merayakan eukaristiya). Kedua ibadah itu dalam bahasa Arab disebut "kasr al-khubzi wa ash-shalawat" (memecah-mecahkan roti dan doa-doa). Dalam bahasa Yunani juga digunakan bentuk jamak "proseukais", seperti yang di singgung diatas. Meskipun istilah "shalat" di negara-negara Arab sama-sama digunakan oleh umat Islam dan Kristen, namun dalam pemakaiannya agak berbeda. Islam membedakan pengertian shalat secara lughawi sebagai "doa sebaik-baiknya", dan secara syar'i sebagai doa menurut tertib, waktu dan ritual tertentu. Islam membedakan shalat dengan doa-doa pada umumnya.

Sedangkan dalam Kristen, kata ini diterapkan baik untuk doa-doa yang dikanonisasi (shalat al-fardhiyyah) menurut waktu-waktu dan cara tertentu, maupun doa-doa pada umumnya, misalnya "Shalat al-Rabbaniyyah" (Doa Bapa Kami). 5 Dalam Kristen, kata shalat juga kadang-kadang diterapkan untuk menyebut "Quddas" (Misa atau perjamuan kudus) pada hari-hari perayaan tertentu. 

Selain kata "Shalat" ini, dalam bahasa Arab juga acap kali dipakai juga dalam bentuk jamak "Shalawat". Kedua bentuk ini sama-sama muncul, baik dalam Al-Qur'an maupun dalam Alkitab berbahasa Arab dan tradisi Liturgis gereja-gereja Arab. Secara etimologis, perubahan bentuk dari bahasa Suryani/ Aramaik "Tselota" menjadi bahasa Arab "sholat", bisa dilacak dari proses korespondensi bunyi (the phonetic corepon-dence). Dalam rumpun-rumpun bahasa Semitik, aksara Aram ts sering berubah menjadi aksara Ibrani sy, dan menjadi aksara Arab sh. Misalnya, kata dasar Aramaik "tsela" bentuk Ibraninya "syalu" dan ini bisa kita jumpai dalam Zabur nabi Daud 122:3 "syalu syalom yerusalaim" (berdoalah untuk keselamatan Yerusalem).

Malah, banyak ahli yang menduga bahwa kata selah yang sering muncul dalam kitab Daud (Zabur) mungkin berasal dari akar kata Aramaik ts-l yang artinya "ruku" atau "membungkuk". 6 Mungkin pada zaman dahulu kata ini dimaksud sebagai sebuah panggilan untuk ruku' disela-sela tilawat ayat-ayat Zabur. Istilah "tselota" juga berasal dari akar kata yang sama. Dalam bahasa Aramaik nomina "tselota" merupakan nomen actionis yang berarti ruku' atau membungkuk untuk menyembah Allah.

Secara teknis kata "tselota" dalam dialek Aramaik digunakan dalam arti ritus penyembahan. Dari istilah bahasa Arab kemudian melestarikannya menjadi kata "shalat", yang akhirnya dipakai Islam maupun seluruh gereja-gereja berbahasa Arab di Timur Tengah. Sedangkan "tselota" dipakai oleh seluruh gereja-gereja berbahasa Suryani (Gereja Ortodoks Syria, Gereja Assyria Timur, Gereja Maronit, Gereja Khaldea Kesatuan, dan Gereja Katolik Syria), Berdampingan dengan kata Arab "shalat" sampai sekarang. Perlu di catat pula bahwa ada sedikit perbedaan pemakaian kedua bentuk kata Arab "shalat" dan "shalawat" dalam Islam dan umat Kristen yang berbahasa Arab. Menurut Mar Ignatius Ya'qub III kita hanya melanjutkan adab Yahudi dan bangsa-bangsa Timur lain ketika memuji Allah dalam praktek ibadah mereka, dan akhirnya pola ibadah ini telah dilestarikan pula oleh umat Muslimin. 7 Jadi, ritus ibadah harian dengan bacaan dan waktu-waktu yang ditentukan ini, bukan hal baru dalam tradisi Yahudi dan Kristen. 

1. Olaf H. Schumann, Pendekatan Pada Ilmu Agama-Agama, hlm. 294
2. Jawwad 'Ali, Tarikh ash-Shalat fi al-Islam, hlm. 25-27
3. Arthur Jefferey, The Foreign Vocabulary of The Qur'an, hlm. 198-199. Lihat juga: Mar Gregorius Yuhanna Ibrahim, Rafiq al-Muk'min: Khidmad al-Quddas wa At-Taranim ar-Ruhiyyah, hlm. 50-51
4. lihat: Qyama Hdata Ktaba Dadyateqe Hdata - The New Covenant Aramaic Peshitta Text with Hebrew Traslation, hlm. 156
5. Buthrus 'Abd al-Malik, Qamus Al-Kitab al-Muqaddas, hlm. 548
6. P.K Pilon, Tafsiran Habakuk, hlm. 65. Juga: Mar Ignathius Aphram I Bar Shaum, At-Tuhfat ar-Ruhiyah fi ash-Shalat al-Fardhiyah, hlm. 47
7. Mar Ignatius Ya;qub III, Al-Kanisat al-Suryaniyah al-Anthakiyah al-Urthuduksiyah, hlm. 15

Bersambung........

Comments

Populer Post

Seminggu Menjadi ATEIS

Cakra duduk menepi di pinggir sungai yang mengalir di sebuah kota kecil yang mulai ramai dicabik zaman. Ia sendirian, tanpa ada suara yang sudi mengajaknya bersandar dengan gurau. Tiba-tiba saja terlintas sebuah keinginan yang mencuat dari dalam benaknya. Ia ingin menjadi ateis. Setidaknya dalam waktu satu minggu saja. Cakra melangkah dengan pasti. Ya, ia rasa apa yang baru saja ia pikirkan adalah sebuah ide gila yang sekiranya menyimpan permata penuh arti. Ia tersenyum, entah menyunggingkan bibir untuk apa, ia sendiri tak tahu. Satu hal yang terlihat jelas, Cakra ingin menjadi ateis selama satu minggu. “Kau gila!” ujar Herna menanggapi rencana yang ingin dijalani oleh Cakra. “Kau kira main-main. Sadarlah kawan. Ah, kau benar-benar sesat,” lanjutnya. Cakra hanya tersenyum. Nyaris tak ada pembelaan dari pria kurus ini untuk tanggapan yang dilayangkan oleh Herna. “Kita sudah berteman lama, Cak. Hentikan kegilaanmu, atau apakah engkau sudah benar-benar gila?” Kata Herna sembari ...

Politik dan Gelak Tawa

Seiring mengemukanya peran media sosial beberapa waktu terakhir, politik yang sesungguhnya urusan sangat serius itu, tak hanya hadir secara kian interaktif di hadapan kita, tetapi juga tampil dengan wajah penuh lelucon. Kini, baik di WhatsApp, Facebook, maupun Twitter, mungkin hampir setiap hari kita melihat meme, artikel, dan status, yang menampilkan anekdot, satirisme lucu, hingga olokan tentang politik maupun elite-elite yang dianggap nganeh-nganehi. Sejumlah orang meyakini, kekuatan lelucon punya potensi mendekonstruksi, dan bahkan, melumpuhkan mitos-mitos kekuasaan. Yang lain mempercayai, gelak tawa muncul hendak mengungkapkan kebenaran yang disembunyikan. Singkatnya, dengan lelucon kritik dan perlawanan terhadap "ketidakwarasan" penguasa dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan, menghibur, tapi sekaligus diharapkan memiliki daya untuk mengingatkan penguasa agar tak mengulang hal yang sama jika tak berkenan ditertawakan. Namun, belakangan, melihat realitas yang a...

Kebodohan Orang-Orang Cerdas

Oleh Reza A.A Wattimena Banyak orang cerdas di dunia ini. Mereka tersebar di berbagai tempat. Mereka dilahirkan dengan kemampuan intelektual yang tinggi. Di banyak tempat, kecerdasan intelektual semacam ini dikagumi dan dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Hidup yang Mulus Mereka mungkin pandai menghitung. Matematika dan fisika bukanlah sesuatu yang sulit bagi mereka. Teknik dan komputer pun dengan mudah mereka kuasai. Sekolah bukanlah sesuatu yang sulit untuk dikerjakan. Mereka juga bisa pandai menghafal. Beberapa bahkan memiliki ingatan fotografik. Mereka mampu mengingat secara persis apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Ujian-ujian sekolah dan universitas pun dengan mudah dikerjakan secara sempurna. Orang-orang cerdas ini biasanya mempunyai pendidikan tinggi. Walaupun lahir dari keluarga miskin, kesempatan mereka untuk mendapatkan beasiswa cukup tinggi. Mereka biasanya bergelar master atau doktor dari institusi pendidikan ternama. Beberapa bahkan ...

Upaya Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia (Telaah Pemikiran Azyumardi Azra) Bagian I

Berbicara pendidikan Islam di Indonesia pada saat ini senantiasa mengundang banyak perhatian dari berbagai kalangan, mulai dari pengamat pendidikan, pakar, praktisi, hingga masyarakat awam. Hal itu terjadi karena pendidikan mampu memberikan berbagai dimensi kajian dan persoalan yang sangat kompleks dan problematik. Berawal dari Abad ke-21, dalam tataran teoritik konseptual pendidikan Islam mengalami kemandekan akut akibat kuatnya pengaruh dari sistem pendidikan tradisional. Selain itu, pendidikan Islam saat ini masih bercorak teologis normatif tanpa memikirkan kontekstualnya. Akibatnya, pendidikan Islam di Indonesia sering mengalami keterlambatan dalam merumuskan diri untuk merespon perubahan dan kecenderungan masyarakat sekarang dan akan datang. Pendidikan Islam saat ini masih terus tetap berorientasi pada masa silam daripada berorientasi ke masa depan sehingga akibatnya pendidikan Islam sering kalah bersaing dengan dalam banyak segi dari pendidikan umum. Bahkan, jika dilihat...

Kekerasan Kitab Suci “Tanakh” Agama Yahudi

Tanakh adalah istilah atau nama lain dari kitab suci agama Yahudi dalam bahasa Ibrani. Dalam bahasa Yunani disebut dengan Pentateukh (“Lima Wadah” atau “Lima Gulungan”). Kitab tersebut terdiri dari lima  kitab diantaranya; Kitab Kejadian/ beresyit, kitab Keluaran/ syemot, kitab Imamat/ wayiqra , kitab Bilangan/ bemidbar, dan kitab Ulangan/ debarim . Kitab ini dalam pemahaman Islam disebut dengan istilah “Kitab Taurat” Yang menjadi pertanyaan disini, apakah benar Kitab Suci membenarkan kekerasan? Pertanyaan ini terasa lelucon belaka bagi mereka yang menganggap agama itu hanya mengajarkan hal-hal yang baik, seperti perdamaian, tolong-menolong, persamaan, dan keadilan. Tapi pada kenyataannya, Kitab Suci menggambarkan kekerasan dalam beragam bentuk. Baik dari himbaun secara lisan dan praktik kekerasan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh sentral kitab suci hingga Tuhan sendiri yang digambarkan bahkan melakukan kekerasan sendiri. Tulisan ini akan dimulai dengan “warisan bermasalah” ...